Posted by : Unknown May 8, 2013


Terlihat Agnes Monica memainkan sebuah instrumen musik tiup, sepertinya itu adalah saxophone. Dia berdiri di pinggir jalan sambil melempar senyum ke penggemarnya di seberang jalan. Tak lama kemudian dia pun berhenti bermain musik dan meneguk segelas air dari gelas plastik berwarna pink. Setelah dahaga terpenuhi Agnes pun mengarahkan jempolnya ke arah sebuah rumah di atas bukit sambil tersenyum ke penggemarnya.


Entah kapan perubahan itu terjadi? Aku ternyata yang mengarahkan jempolku ke arah rumah itu. Rumah itu adalah rumah kayu di atas bukit dengan teras rumah yang tidak terlalu luas. Ku lihat ke dalam melalui jendela, ruangannya terlihat gelap tanpa penerangan sedikit pun. Aku berdiri di teras rumah menghadap ke penggemar Agnes yang tadi. Aku berbicara berlagak memberi pidato di depan orang-orang. Kata-kata yang masih kuingat adalah “Tempat ini adalah tempat yang aling indah di antara tempat yang lain karena letaknya yang memang lebih tinggi dari tempat lain di sekitarnya dan memang tempat ini indah dan selain itu aku punya kenangan di sini”

Tiba-tiba hujan turun dan membasahi tubuhku. Ternyata teras rumah itu tak memiliki atap. Ku lihat beberapa orang dengan kamera mengikutiku sambil melindungi kameranya dari guyuran hujan. Kilatan cahaya tak henti-hentinya bermunculan di depan mataku. Aku tak tahu apakah itu kilatan cahaya getir atau cahaya blitz dari kamera orang itu. Aku pindah dari tempatku berdiri menuju tempat yang lebih tinggi, nampak sebuah kolam tua mirip kolam ikan dengan airnya berwarna kuning keemasan. Orang-orang dengan kamera kembali mengikutiku dan berdiri di sekitarku. Aku mengambil sebuah kameranya yang diliindungi oleh sebuah cangkang. Aku berkata “Kamera ini tak bisa basah karena memilki cangkang ini”.

Ku lihat tanteku keluar dari sebuah rumah. Dia lewat di dekatku dan berkata setengah berbisik "yogi yogi". Akupun mengikutinya menuruni bukit. Tak lama kemudian tanteku kembali menaiki bukit dengan tertatih-tatih. Dia berkata kepadaku sambil menunjuk sebuah rumah di sebelah kanan. "Ada kue di dalam rumah itu di atas meja tamu, masuk dan ambillah". Aku menolaknya dan berkata "Aku lebih suka jambu, jika saja ini musim jambu". Kembali kami meneruskan perjalanan menyusuri jalan di atas bukit. Terlihat di sebelah kiriku sebuah kebun. Di kebun itu tumbuh pohon yang aku tak tahu namanya. Pohon itu tumbuh berjejer rapi dan di dekatnya ada buah mirip semangka. Di dekatku kini bukan lagi tanteku tapi ibuku yang menemaniku berjalan. Aku mengikuti ibuku dari belakang. Aku bertanya pada ibuku "Kenapa jalan ini sepi sekali? padahal dulu sangat ramai" Ibuku menjawab "Dulu waktu aku dan ayahmu pertama kali ke sini tempat ini sangat gelap dan sepi, bahkan ayahmu tak tahu jalan dan tak tahu harus berhenti dimana". Ibuku belok kanan  ke sebuah jalan dan berkata "lipan". Lipan itu merayap di kakiku, aku merasa taku dan menggoyang-goyangkan tubuhku dan aku terbangun dari tidur. Ternyata cuma mimpi.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ammankun blog -